Tuesday, September 23, 2008

pagi ini

menekur mengucap syukur atas berkatNya yang melimpah ruah, aku melihat betapa tak sebanding dengan perlakuanku padaNya
sebaik apa aku berusaha, Dia selalu memberi lebih
bahkan diwaktu - waktu sukaku
terlebih disendiriku

apakah terlalu klise kalau kubilang: betapa setiaMu padaku, sekalipun KAU bukan hambaku
tetapi selalu pikiran ini yang mencolekku: bukankah kebenaran itu sendiri bagaikan hal yang "klise"? selalu sama, tak pernah berubah, dari waktu ke waktu.

kembali bibirku melantunkan ode untukNya:

maha baik Engkau
maha kasih Engkau
maha pengampun Engkau
maha tau Engkau

Engkau adalah misteri
dan Engkau adalah nyata
Engkau adalah imaji
dan Engkau adalah fakta

i luv U, LORD
more and more each day

Thursday, September 18, 2008

Am Back!

rasanya masa sudah meninggalkanku lama
sampai kulupa bagaimana ia mendera
betapa kusyukuri jejak hari - hari
menyeretku pada realita fana

hari ini bahagia berada
menjemput memeluk mengikat rasa
aku berjengit merasa citanya
ternyata masih ada dariNya

life is beautiful, isn't it?
so, why don't just be thankful rather than complaining?

Thursday, September 13, 2007

Tuhan adalah Gembalaku

“Tuhan adalah Gembalaku, tak kan kekurangan aku…”

Mata ku yang merem – melek “menikmati” geronjalan metro mini 69 jurusan Blok M – Ciledug langsung terbuka. Siapakah kiranya sang pelantun ajimat jiwa?

Seorang pemuda mengenakan jeans belel dan kaos oblong dimasukkan ke dalam jeans, sedang berpuisi ria. Matanya menatap para penumpang, satu – persatu, bagaikan seorang penyair pro yang sedang manggung.

“Nyleessss……” hatiku bagai disiram air es segayung mendengar lantunan kata ini. God, aku sangat amat merindukanMU, hatiku “sakit” padaMU, I am keen to meet YOU face to face.

“Ia menuntunku kejalan yang benar, Ia menyegarkan jiwaku”

Lho, kok di korupsi? Mestinya dia menyebut “Ia membaringkan aku dipadang yang berumput hijau”….kalau memang dia mau berpuisi dari Mazmur 23.
Sesekali tangannya menunjuk ke suatu arah, dan mata tetap “menantang” penumpang. Suaranya keras terdengar, “pronounciation” nya jelas, dan selalu ber-jeda.

Duh Gusti, kawula nyuwun duka dene kawulo sampun medamel lingsemipun Paduka, awit dene kawula sampun lebur ing duraka. Menggah kersaa Paduka anganthi tangan mami, gung berkah saha sih rahmat Paduka tansah kawula tampi.
-Ya Tuhan, ampunilah saya karena saya telah mempermalukan Engkau, karena saya telah melebur dalam kejahatan. Mohon kiranya Engkau berkenan menggandeng tangan saya, sehingga berkat dan rahmaMU boleh selalu kami terima-

Selanjutnya adalah rangkaian kalimat yang mungkin buah pikiran pemuda tersebut.
Dan aku kembali tenggelam dalam angan, bayangan yang berkelebatan melahirkan benci dendam kasihan kecewa tulus damai dan mengasihi.

Adalah berkat tersendiri ketika aku boleh mengalami a dire experience –pengalaman yang dahsyat- yang membuatku strongly changed to be a better child.
Cambuk dipunggung pelahan akan tak terasa, cambuk dijiwa tak kenal mati rasa.
Namun cambukMu terasa bagai lecutan sutera, karena berbuah mutiara.
Cambuklah aku, o Paduka Tuhan… agar langkahku gak nyasar lagi.
Cucuklah hidungku karena aku adalah kerbauMU yang KAU pakai membajak sawahMU
Ikatlah aku dengan jalinan tambang kasih sayang dan cinta yang melimpah ruah, hingga bagiku tak ada alasan untuk bergabung dalam kelompok setan.


“ya, demikianlah para penumpang…inilah sajak yang merupakan karya saya. Semoga membuat perjalanan Anda nyaman. Adapun pemberian Anda akan saya pergunakan untuk berbuka puasa sore nanti”.

Wednesday, September 12, 2007

Happy (belated) birthday, Pangeran Gimbal (ku)!

Sesosok tubuh melenggang santai disuatu senja menuju malam di kawasan blok M. Saat ku tengok, deeeggghh……jantungku mau lepas dari dada rasanya.

Terbelalak melihat langkahnya yang khas, teriakannya yang bebas, dan…o la la……rambut gimbal sepanjang punggung!. Bukan sekedar gimbal, tapi gimbal banged! Dan panjang….. mengalahkan rambut gimbalnya Bob Marley.

Aku tertegun, ragu antara menyapa dan menghindarinya.
Benarkah itu “dia”? Masih adakah “dia”? Seseorang yang kukenal baik, kupahami dengan sangat, kuanggukkan kepala bagaikan kerbau dicocok hidungnya setiap mendengar “kotbah”nya…. Betapa lama tak sua, satu dasawarsa kiranya.

Setengah ragu aku menyapa, dan dengan antusias dia menyambut dan meneriakkan namaku. Ber “hai gimana kabarnya” dan bla bla bla, memutar kaset lama kenangan masa muda. Hmmm… kiranya tak berubah dirimu, kecuali kecintaan pada surgafanamaya, keberhasilan merintis jejak di pariwara, memancang masa depan dalam sebuah toko pakaian (metal) di blok M. Semoga benar demikian adanya.

Masih tertegun aku kala kutemu, kau tetap tak kaku meyakinkan aku dengan kotbahmu. Masih di topik yang sama, masih di pergumulan yang sama, masih di mimpi yang sama. Oh Bapa, adakah KAU dengar ratapnya? Atau, KAU sunggu tau (seperti biasanya) bahwa merananya adalah suka – suka, hanya sebuah pemberontakan jiwa?

Dengan antusias kau bercerita soal keluarga, Mama, Papa yang telah dipanggil Bapa di Surga, semua. Tak lupa pesan Mama untuk menemukanku.

“What for?,” tanyaku tak mengerti
“Dunno, call her..,” jawabnya singkat, namun sarat permintaan untuk melaksanakan amanat (Mama)
“OK, someday…may be,” sahutku santai
“May be there will be never another day,” katanya serius

Gak nyangka, memang…. Bahwa dia gak berubah banyak…
But he must know that people changed, included me.

Whatever…..
Whatever, Buddy… you always my “big” Buddy

Happy (belated) birthday, Pangeran Gimbal (ku)!